Showing posts with label Gedung Kuno. Show all posts
Showing posts with label Gedung Kuno. Show all posts

Wednesday, March 11, 2015

Gedung Arsip Negara

Bekas Gedung Arsip Nasional

Ketika Arsip Negara pindah ke rumah itu pada tahun 1925, pemerintah Hindia Belanda telah memperbaikinya sedapat mungkin. Taman depan ditanami lagi. Bekas tempat tinggal budak di halaman belakang digunakan untuk gudang arsip.

Sepanjang jalan masuk dari pintu gerbang sampai ke pintu depan, dulu ada sederetan pohon yang ditanam secara simetris. Kolam air di halaman belakang yang sekarang masih ada berasal dari tahun 1927, ketika sudah menjadi Arsip Negara. Dulu di kolam itu ada air mancur kecil dan ikan mas. Kolam itu rupanya tiruan dari Istana Versailles, Francis. Dulu juga ada meriam kecil di kiri-kanannya, lengkap dengan pedati mainan. Sekarang pun masih ada dua meriam di belakang. Rupanya meriam itu  sisa museum terbuka yang antara lain berisi pintu gerbang dan bagian depan rumah-rumah kuno.

Sumber air panas yang digali waktu zaman Departemen Pertambangan yang terletak dekat pintu gerbang masih ada sampai sekarang. Sumber air itu sudah ditutup, tetapi airnya disalurkan ke belakang. Airnya memang benar-benar hangat.

Para pemilik rumah ini dulu menggunakan bagian atas sebagai ruang tinggal sehari-hari. Ruang atas yang terdiri dari enam kamar, berlantai kayu, keadaannya jauh lebih sederhana dari ruang-ruang bawah. Hanya anggota keluarga dan teman akrab yang naik ke sana. Kamar-kamar itu merupakan kamar tidur keluarga, tempat penyimpanan perabot dan dapur.

Kalau kita sekarang menaiki tangga gedung Arsip Nasional ini, ada satu hal yang menarik. Ternyata orang Belanda zaman dulu juga tidak terlalu tinggi. Kalau tidak hati-hati, kepala seseorang setinggi 170 cm juga akan terbentur lantai loteng pada saat naik atau turun. Sisi tangga dibuat rapat, tetapi di bagian bawah dan tengah ada tonggak berhias pot bunga ukir. Di atas tergantung ukiran seuntai buah anggur.

Ruang bawah meliputi tiga ruangan, yakni ruang utama, tengah dan belakang. Antara ruang utama dan tengah ada pilar. Sedang antara ruang tengah dan belakang ada dinding dengan hiasan atas pintu yang melambangkan 'imari. Ruangan-ruangan bawah ini merupakan ruangan resmi tuan dan nyonya rumah. Di situ mereka menerima tamu dan menyelenggarakan pesta atau resepsi yang menjadi kegemaran zaman itu.

Ruangan-ruangan bawah ini, terutama 'bangsal' utama digambarkan sangat megah dan mewah, penuh lampu kristal dan lilin. Cahayanya memantul dari jendela-jendela kaca jika dinyalakan. Hiasan dinding dari gelas dan porselin serta perabotan antik dari berbagai periode menambah kemegahan.

Sekarang juga masih terdapat banyak perabotan kuno yang menghias ruangan bawah, tetapi bukan asli dari rumah tersebut. Misalnya lonceng kecil, kursi dan meja makan, kursi dan meja rapat, lemari besi antik, peti besi dan sebagainya. Sebagian besar berasal dari Bataviaasch Genootschap dan titipan warga Belanda perorangan ketika mereka harus mengungsi waktu Jepang masuk.

Kalau kita masuk ke dalam gedung dan hari sedang dingin mungkin kita akan merasa sedang berada di Den Haag atau Amsterdam. Sedang kalau melongok dari jendela loteng depan, dengan sedikit berkhayal kita akan mendapat ke berada di Istana Versailles dekat Paris atau Schoenbrunn –di Austria. Soalnya taman di depan gedung dirancang menurut pola taman Francis. Bedanya, kalau di Versailles pola itu dibentuk dengan bunga, di situ dengan berbagai jenis tanaman hijau.

Arsip Nasional memang indah dan patut kita banggakan serta kagumi. Gedung itu pun sebenarnya terbuka untuk umum. Namun sayang bahwa kebanyakan justru hanya wisatawan asing yang datang untuk menikmati peninggalan kuno itu.

Rumah Reiner De Klerk

Rumah Reiner De Klerk

Kalau kita menengok ke rumah nomor 112 di tengah hiruk-pikuk keramaian lalu lintas Jalan Gajah Mada, rasanya waktu seolah-olah berhenti beberapa abad di situ. Perasaan itu memang tidak meleset jauh. Pilar kuat, dinding dan pintu tebal memang ciri gedung zaman Kompeni. Ketika Reinier de Klerk membangun gedung itu, konon ia sudah menyatakan ingin membangun sebuah gedung abadi.

Reinier de Klerk seorang pedagang besar, membangun rumah itu ketika ia masih menjadi anggota Raad van Indie pada tahun 1760. Ketika ia diangkat menjadi gubernur jenderal, baginya tersedia rumah kediaman resmi Istana Bogor dan 'Rumah Merah' yang dulu terletak di kompleks Duta Merlin sekarang. Tetapi ia paling senang tinggal di rumah Molenvliet (Gajah Mada).** De Klerk meninggal tahun 1780, istrinya lima tahun kemudian.

Lewat lelang (kebiasaan waktu itu), rumah tersebut jatuh ke tangan Johannes Siberg, menantu Gubernur Jenderal Alting, pengganti de Klerk. Siberg sendiri kemudian juga menjadi gubernur jenderal antara tahun 1801-1805.
 

Siberg meninggal di rumah itu pada tanggal 18 Juni 1817 sebagai pensiunan gubernur jenderal. Selanjutnya rumah itu dijual tahun 1818 kepada Lambertus Zegers Veeckens, yang kemudian menjadi presiden Raad van Financien (Dewan Keuangan). Tetapi dua tahun kemudian dijual lagi kepada Leendert Miero, seorang tukang emas Yahudi yang kaya.  Miero adalah seorang Yahudi asal Polandia yang ulet. la datang di Indonesia pada umur 20 tahun sebagai prajurit. Sebagai tentara la sering bertugas jaga di gardu rumah besar mi, yang kemudian dib

Dari Miero rumah itu pindah ke tangan menantunya, notaris Joan Cornells Mayer. Pada tahun 1844 dijual kepada College van der Hervormde Gemeente (Dewan Gereja Jemaat Pembaruan). Waktu itu rumah tersebut banyak mengalami perubahan. Bagian depan ditambah dengan ruang gaya Yunani untuk gereja dan taman kanak-kanak, tetapi kemudian dibongkar lagi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pekarangan belakang dibuat tempat bermain dengan ditanami pohon pisang. Gedungnya sendiri dipakai sebagai rumah piatu.

Dewan Gereja kemudian merasa tempat itu kurang cocok lagi untuk gereja dan rumah piatu, karena dalam waktu selanjutnya makin banyak orang Tionghoa dan Arab membangun rumah di daerah Molenvliet. Akhirnya gedung tersebut dijual kepada Pemermtah Hmdia Belanda pada tahun 1900.

Pemerintah Hindia Belanda membeli gedung itu untuk melindunginya dari penghancuran karena waktu itu kotapraja Batavia juga sedang giat melaksanakan program pengembangan kota.

Pada tahun 1900 rumah tersebut ditempati Departemen Pertambangan, tetapi antara tahun 1900 dan 1925 sangat terlantar. Baru pada tahun 1925 rumah itu digunakan sebagai Landsarchief dan kemudian menjadi Arsip Nasional. Sampai arsip Nasional  mempunyai gedung baru di Ragunan

Setelah sekian kali berpindah tangan tentu saja rumah itu beberapa kali mengalami perubahan. Tapi keadaannya sekarang masih banyak menunjukkan corak aslinya. Sewaktu rumah itu dipakai oleh Departemen Pertambangan, jajaran pilar di belakang diganti dinding modern. Cat merah dan emas yang merupakan ciri khas gedung itu diganti menjadi abu-abu, warna dari gedung-gedung pemerintah waktu itu. Ubin dari Delft (sebuah kota di Belanda) yang menutupi sebagian dinding juga dicopoti. Konon untuk menghiasi Kamar Kompeni di Museum Pusat. Namun sebagian daripadanya masih dapat kita kagumi sampai sekarang. Ubin-ubin itu menunjukkan adegan-adegan dari kisah Kitab Injil. Warnanya tidak biru (Delfisblauw) sebagaimana lazimnya, tetapi agak cokelat keungu-unguan. Sampai akhir abad lalu dikembalikan kewarna aslinya

Di atas pintu belakang yang sudah dibongkar ketika ditempati Departemen Pertambangan ada ukiran yang melambangkan 'Cinta kasih'. Konon ukiran itu sudah berpindah ke Amerika. Ukiran-ukiran gaya barok yang menghias bagian atas pintu itu memang bukan sekedar ukiran, tetapi ada maknanya. Pintu depan yang tampak dari jalan, kalau didekati menggambarkan seorang wanita Eropa dengan satu tangan memegang jangkar dan tangan lain memegang obor. Ukiran itu melambangkan 'pengharapan'. Pintu tengah yang menghubungkan bangsal tengah dengan bangsal belakang menggambarkan 'iman', yaitu ukiran wanita mengacungkan salib. Menurut dugaan, di atas pintu belakang pasti terukir lambang 'Cinta1, sebab menurut kebiasaan 'pengha¬rapan1 dan 'iman1 selalu bertaut dengan 'cinta1. Pintu inilah yang diperkirakan dibongkar oleh Departemen Pertambangan. Selain itu masih ada beberapa pintu lain yang di bagian atasnya berhias ukiran indah.

Gedung Departemen Keuangan dari zaman Daendels


Gedung Departemen Keuangan dari zaman Daendels

Salah satu bangunan yang sudah ada sejak zaman Daendels ialah Gedung Departemen Keuangan. Gedung itu sudah mulai dibangun permulaan abad 19.
 
Setahun setelah Daendels menjual tanah Weltevreden, Pemerintah Belanda membangun sebuah istana berhadapan dengan laparigan parade Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Pembangunannya diserahkan kepada Letkol J.C. Schultze yang pernah membangun Societeit Harmonie di Batavia. Meskipun waktu itu keadaan keuangan pemerintah Belanda kritis, tetapi pembangunan gedung itu tetap diteruskan.

Gedung itu juga akan dimanfaatkan sebagai tempat penginapan para pembesar pemerintah Belanda, sehingga perlu dibangun kandang-kandang kuda. Fungsinya seperti garasi mobil sekarang. Soalnya dulu kuda merupakan alat pengangkutan penting.

Pemerintah Belanda berusaha keras menyelesaikan gedung itu. Mereka tidak segan-segan mengambil bahan bekas bangunan Kasteel Batavia. Namun demikian gedung belum selesai seluruh-nya ketika masa jabatan Daendels berakhir pada tahun 1811. Bangunan induk baru selesai bagian, sedangkan bangunan sayap kiri dan kanan setengah selesai.

Penggantinya Gubernur Jenderal Jansens rupanya kurang menaruh perhatian terhadap pembangunan gedung itu. Selama masa kekuasaannya bangunan itu tetap terlantar dan tidak selesai. Baru ketika Du Bus berkuasa pada tahun 1826 gedung itu dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan tenaga Ir. Tromp. Itu pun karena gedung tersebut kemudian akan dimanfaatkan sebagai kantor pemerintah Hindia Belanda. Dua tahun kemudian, pada tahun 1828, gedung itu selesai dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Du Bus. Hal itu dapat kita saksikan pada batu prasasti di sebelah kiri pintu gerbang kanan dari gedung Departemen Keuangan lama, yang bertuliskan:
 
MDCCCIX
CONCIDIT DAENDELS
MDCCCXXVIII
ERIXIT DU BUS
Batu prasasti itu merupakan batu terakhir gedung tersebut.

Setahun setelah bangunan selesai,    bagian belakangnya ditanami berbagai macam tanaman hias seperti kebun botani. Sayang segala tanaman itu akhirnya mati tak berbekas. Pada tahun 1835 bagian ruangan bawah gedung itu pernah juga dipakai sebagai Kantor Pos dan Percetakan Negara. Sedangkan bagian lain dipakai sebagai Hoger Gerecht shof dan Algemene Secretarie.

Tanggal 1 Mei 1848 gedung itu resmi dipakai sebagai Departement van justitie (Departemen Kehakiman). Gedung lama kemudian digunakan sebagai pusat dokumentasi/perpustakaan Departemen Keuangan pada zaman Hindia Belanda. Selama penjajahan Jepang segala kegiatan pemerintah di Indonesia dipusatkan di Jakarta. Kegiatan keuangan sehari-hari juga tetap dipusatkan di gedung ini. Sebelah kiri gedung lama Departemen Keuangan dulu ada gedung Volksraad (Dewan Rakyat pada masa pemerintahan Hindia Belanda) yang sekarang sudah tidak ada lagi. Di bekas gedung ini didirikan gedung baru yang merupakan gedung utama Departemen Keuangan RI sekarang. Di gedung inilah Menteri Keuangan menjalankan tugasnya sehari-hari selaku pimpinan Departemen Keuangan RI.

Museum Tekstil


Museum Tekstil

Salah satu gedung lain yang patut didiskusikan ialah Museum Tekstil di Jalan Petamburan 4. Biarpun tidak terlalu tua, tetapi gedung ini juga bersejarah. Sekelompok pemuda Jakarta wilayah Tanah Abang dan sekitarnya menghimpun kekuatan di gedung itu untuk menyerang tentara Sekutu di zaman gerakan kemerdekaan.

Gedung tua itu dulu dibangun orang Prancis dalam abad ke-19 dengan gaya Islam. Beberapa puluh tahun kemudian gedung itu beralih tangan ke Konsul Turki, Abdul Azis Al Musawi Al Kathini. Dia seorang bangsawan Turki yang menetap di Indonesia dan kemudian mempersunting putri Raja Bengkulu. Dan perkawinan itu lahir empat orang anak, dua putri dan dua putra.

Putri sulung Syarifah Maryam menikah dengan Sayid Abdullah bin AlwiAlatas. Keturunan mereka inilah yang kemudian memiliki gedung Jalan Jati Petamburan No. 4. Selain rumah nomor 4, nomor 2 dan nomor 6 juga milik Alwi Alatas. Rumah yang dibangun dalam gaya Islam itu dirombak dan dijadikan gedung seperti yang tampak hingga kini. Luas tanah 9820 m persegi komplet dengan taman penuh bunga-bunga dan pohon rindang di depan serta belakang rumah, kandang kuda, kandang sapi dan sumur besar di halaman belakang.

Sayid Abdullah bin Alwi Alatas ini lahir di Batavia pada tahun 1844. Dia terkenal sebagai hartawan dan dermawan. Di lingkungan Tanah Abang dan sekitarnya la mendapat gelar Tuan Bagdad' karena kedermawanannya. Ia meninggal tahun 1929 dan mewariskan rumahnya kepada anak-anaknya. Di samping rumah di Petamburan ini, dia juga membeli rumah milik pelukis terkenal Raden Saleh di Jl. Raden Saleh. Gedung-gedung di Jl. Karet yang kmi menjadi Puskesmas Bahayangkara dan Sekolah Alatas juga miliknya.

Menjelang tahun 1942 rumah tersebut dijual kepada Vermeulen, seorang bujangan penjual barang antik. Di zaman perjuangan tahun 1945 rumah nomor 4 itu dijadikan markas Pemuda Barisan Pelopor dan BKR. Setelah cita-cita para pemuda terwujud, gedung ini menjadi tempat tinggal Lie Siong Phin pada tahun 1947 dan kemudian dikontrakkan kepada Dinas Perumahan Departemen Sosial. Oleh Depsos tempat ini dijadikan rumah tinggal dan penampungan orang-orang lanjut usia.

Selama masih dikontrakkan, gedung ini sudah berpindah tangan ke keluarga Bee Tjoan Nio. Tetapi pada tanggal 11 Februari 1952 gedung itu dibeli kembali oleh keturunan Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, yaitu Abban bin Abubakar Alatas. Empat bulan kemudian 11 Juni 1952, gedung itu dibeli Departe-men Sosial seharga Rp. 800.000 dan dijadikan asrama pegawai dan dihuni sekitar 40 keluarga. Setelah berkali-kali pindah tangan, gedung itu akhirnya diserahkan oleh Menteri Sosial Mintareja SH (waktu itu) kepada Gubernur DKI Jaya H. Ali Sadikin dan pada tanggal 25 Oktober dijadikan Museum Tekstil.

Arca-Arca

Arca-arca Di Kelenteng Sentiong

Sejak tahun 1862 arca-arca yang diduga berasal dari sekitar Prambanan-Kalasan itu mulai menarik perhatian pihak Belanda. Mereka berusaha untuk memasukkan dalam koleksi Museum Bataviaasch Cenootschap (kini Museum Pusat). Usaha itu sama sekali tidak berhasil. Pihak pengurus kuatir menyinggung pengertian beragama mereka yang memuja area-area itu. .

Dalam tahun 1866 usaha itu dilanjutkan lagi. Anggota Kinder de Camaraeq melaporkan kepada Lembaga, bahwa di halaman kelenteng terdapat dua buah batu berbentuk busur, yang diduga merupakan bagian dari suatu gapura. Ia menyarankan agar batu itu dimanfaatkan sebagai hiasan bagian depan gedung Museum yang akan dibangun. Tahun berikutnya sekretaris lembaga itu melaporkan lagi, bahwa ia melihat sejumlah dua puluh arca di ruang samping dan beberapa lagi di halamannya. Dalam rapat diputuskan untuk mengajukan soal itu kepada Residen Batavia. Tetapi itu pun tak membawa hasil.

Bertahun-tahun lewat, tetapi tampaknya pihak Museum masih juga belum melepaskan harapan untuk memperoleh arca-arca itu. Bahkan pernah dicoba menyangkutkannya dengan KUHP Tionghoa. Salah satu undang-undang itu menyebutkan bahwa pegawai negeri yang memberikan sesajian di muka umum kepada dewa-dewa yang tak berhak dapat dihukum dengan didera dengan tongkat delapan puluh kali. Ternyata ayat itu tak dapat diterapkan. Di kelenteng itu hanya berlangsung penghormatan sederhana kepada dewa-dewa yang tidak sah, kecuali tiga atau empat area Buddha. Jadi tidak bisa dianggap persajian besar-besaran oleh pegawai negeri. Juga ayat tentang ilmu sihir, ajaran-ajaran yang merusak, penipuan dan sebagainya tak dapat pula diterapkan. Dengan demikian segala usaha gigih pihak direksi Museum untuk memperoleh area-area itu tetap gagal.

Sampai dengan tahun 1979 itu, kumpulan area tersebut masih tetap bersemayam dengan tenang di tempat yang sama seperti dua ratus tahun yang lampau. Beberapa diantaranya dicat warna emas atau dihiasi kain merah. Asap dupa dan lilin mengepul tanpa henti-hentinya. Banyak di antara area-area itu agak kehitam-hitaman oleh asap.

Sekelompok Orang Tionghoa

Golong Sali

Maka dalam tahun itu Josephe berhasil menjualnya lagi kepada sekelompok orang Tionghoa, Lim Tjipko, Kapten Lim Ki Enlo, Lim Theko, Khouw Hong Liang, Tee Poanko, Khouw Tjangke, Lauw Nunko, Si Oako, Tan Kalang, Tung Inko dan Tan Soenko, seharga 6000 rijksdaalders. Persil itu diuraikan sebagai "sebidang tanah yang biasa disebut Goenoeng Sarie, dengan makam-makam Tionghoa, terletak di luar kola, sekitar jarak perjalanan satu jam antara benteng-benteng Jacatra dan Noordwijk, jalan raya Selatan dan apa yang disebut Drosserspad di sisi timur bagian ke-22 dan blok L. no 14. 15. 16 dan 17.  Drosserspad adalah jalan tempat para budak belian melarikan diri, sekarang Jalan. Taman Sari Raya (Asem Reges). Jalan Raya Selaten (de Grote Zuyderweg) mungkin Jalan. Gunung Sahari Raya, sedang Sungai Besar adalah Ciliwung. Dari batas-batasnya dapat dibayangkan betapa luas tanahnya. Rumah Goenoeng Sarie ini. Dalam peta kota Jakarta buatan ± tahun 1940 daerah ini masih merupakan tanah Pekuburan Tionghoa.

Sebelah barat dibatasi oleh sebagian Drosserspad atau jalan raya baru, selanjutnya dengan tanah Amat, di sebelah timur dengan Jalan Raya Selatan, di sebelah utara dengan Sungai Lama, C. W. Mey dan kuburan Tionghoa baru dan di sebelah selatan pada tanah A. van Tematen, orang Bali Dul Talie Abdul Rahim, sungai besar lama dan Janda dan N. Perera. Menurut seorang Tionghoa, penulis Sejarah Kronologis Jakarta, kisah pembelian itu agak berlainan. Dalam tahun 1760 kapten orang Tionghoa berunding dengan pembantu terdekatnya mengenai pembelian tanah kuburan baru. Mereka meminta agar segenap bangsanya ikut menyumbang agar bisa membeli Taman Gubernur di “Golong-Sali”, di mana ada sebuah kuil Buddhis, dengan sejumlah area batu, yang dulunya dibuat oleh orang Tionghoa. Orang Tionghoa senang sekali memperoleh sebidang tanah ini ..."

Maka sejak tahun 1762, jadi lebih dari dua ratus tahun, rumah Gunung Sari dan tanah sekitarnya menjadi milik orang Tionghoa. Tanah pekarangannya yang luas dijadikan pekuburan. Bangunan rumahnya diubah menjadi sebuah kelenteng sampai sekarang. Yang agak mengherankan ialah bahwa koleksi area batu dari zaman pengaruh kebudayaan Hindu itu disimpan di sebuah ruang samping khusus dan dipuja sebagai dewa-dewa Tionghoa. Memang di antara area-area itu ada empat atau lima area Buddha, tetapi selebihnya adalah dewa-dewa Hindu, seperti Ganesya, Durga, Agastrya dan lain-lainnya. Bagi umat yang ke klenteng Sention, kumpulan arca itu adalah Cap Pe Lohan, atau delapan belas orang suci (arhat) yang dikenal dalam agama Buddha Tionghoa. Padahal jumlah arca yang ditempatkan di atas semacam pentas batu itu lebih dari delapan belas

Soal ini ternyata juga menarik perhatian Raffles. Gambar keenam kumpulan arca itu termuat dalam bukunya History of Java yang tersohor. Ia menulis antara lain, ".... menarik perhatian, bahwa orang-orang Tionghoa di sebuah negeri asing, demikian tinggi menilai dan menghargai patung-patung berhala dari bangsa yang mereka pandang rendah. Padahal bentuk pemujaan mereka dewasa ini sangat berbeda daripada orang Hindu, betapa pun banyak persamaannya waktu dulu..."

Frederik Julius Coyett

Lambang Frederik Julius Coyett


Dalam tahun 1729 Coyett diangkat menjadi Penguasa Kompeni untuk pantai utara Jawa. Dalam tahun 1733 ia ditugaskan ke Kartasura untuk merundingkan dengan Susuhunan, soal pem-bayaran hutang-hutang dan perluasan hubungan dagang Kompeni dengan Kerajaan Mataram.

Di antara stafnya yang ikut serta adalah sekretaris Hendrik Greven dan pejabat perpajakan Semarang, Cornellis Anthonie Lons. Yang terakhir ini minta izin kepada Coyett dan Susuhunan untuk mengadakan perjalanan peninjauan di wilayah kerajaan Mataram. Lons mengisahkan segalanya dalam sebuah laporan perjalanan, termasuk kunjungannya ke kompleks Candi Prambanan. Meskipun dia tidak menyebutkan secara jelas, bukan mustahil dialah yang mengambil area-area Hindu dan Buddha dari daerah percandian yang kemudian akan kita jumpai kembali dalam rumah Coyett. Mungkin ia melakukan hal itu sebagai balas jasa kepada atasannya yang telah memberi izin dan berusaha memintakan izin kepada Susuhunan. Kalau bukan Lons, mungkin juga Gubernur Jenderal van Imhoff, yang pernah mengadakan perjalanan serupa dalam tahun 1746, atau Jacob Mossel (salah seorang pemilik rumah berikutnya) yang juga mengadakan perlawatan sama delapan tahun kemudian.

Beberapa patung ada yang dipasang dekat pada bagian rumah yang menjadi kelenteng Sentiong. Kita bisa menyimpulkan bahwa setidak-tidaknya sebagian dari patung-patung itu sudah ada ketika rumah itu dibangun tahun 1736.

Coyett sendiri tak lama menikmati rumahnya. Ia meninggal dunia dalam tahun itu juga. Sebelumnya ia minta dinikahkan secara resmi dengan Geertruida Margaretha Goossen. Istri yang sah ini mewarisi rumah yang kemudian disebut Huize Goenoeng Sarie. Ia kemudian menikah lagi dengan Johannes Thedens, seorang pejabat tinggi Kompeni yang kemudian pernah menjadi pejabat sementara gubernur jenderal. Tanah berikut rumah dibaliknamakan kepada suami baru itu, tetapi kembali lagi kepada pemilik semula ketika Thedens meninggal dalam tahun 1748.

Beberapa tahun kemudian rumah itu dijual lagi kepada Henricus Jacobus van Suchtelen. Pembeli ini pun tak bisa lama membanggakan diri sebagai pemilik rumah dan tanah Goenoeng Sarie. Ia meninggal dalam tahun 1753. Jandanya yang masih muda menikah lagi dengan Roelof Blok, Gubernur dan Direktur Kompeni untuk Makasar. Nyonya muda itu meninggal di situ ketika melahirkan anaknya, sehingga Blok kemudian menjadi pewaris rumah Goenoeng Sarie.

Tahun 1761 Blok kembali ke tanah airnya setelah menjual rumahnya kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Dalam akte jual-beli disebutkan, "...sebuah rumah tinggal besar dari batu, dengan beberapa bangunan lain, dengan beberapa kuburan Tionghoa di luarnya, terletak dalam jarak satu jam perjalanan antara benteng-benteng Jacatra dan Noordwijk* sisi timur, dan barat sungai besar yang lama di antara jalan raya Selatan dan jalan raya yang baru dirintis..." Benteng Jacatra terletak di ujung Jalan Pangeran Jayakarta, sekitar tempat pembantuan hewa. Benteng Noordwijk terletak di sekitar jalan silang kereta api di Jalan Pintu Air

Mossel juga tidak lama menikmati rumah ini. Ia meninggal pada tanggal 15 Mei 1761. Agaknya para ahli warisnya tidak tertarik pada rumah ini, sehingga mereka kemudian menjual kepada Simon Josephe. Rupanya pembeli terakhir menutup transaksi itu dengan maksud-maksud mencari keuntungan. Ia tahu bahwa di sekitar tanah itu ada beberapa kuburan tua Tionghoa. Ia tahu pula bahwa orang-orang Tionghoa sedang mencari tempat baru untuk areal pemakaman mereka yang telah penuh. Di samping itu adanya area-area Hindu dalam rumah Coyett rupanya juga merupakan daya tarik, yang membuat mereka makin berminat atas persil ini.

Rumah Tuan Tanah Yang Jadi Kelenteng Tionghoa

Vihara Buddhayana

Cerita ini mengenai sebuah gedung di zaman doeloe di Jakarta yang masih ada sampai sekarang. Di sebelah utara pusat perbelanjaan terkenal Pasar Baru, ada sebuah jalan yang dulunya dikenal bernama Gang Tepekong (sekarang diganti menjadi Jalan Pintu Besi). Pada belokan yang menuju ke Jalan Kartini, tepat di seberang pos Pemadam Kebakaran terlihat sebuah bangunan putih berpagar tembok rendah. Gerbang masuknya agak sempit, berpintu besi agak tinggi, bercat merah. Jalan masuk ke gedung ini memang cukup memadai untuk mencegah kaki pengunjung berlepotan lumpur atau basah. Namun si pembuat gedung agaknya kurang menghiraukan segi-segi keindahan.

Gedung itu terlindung dari pandangan mata oleh semak-semak tinggi. Bambu gading dan sederet pohon tanjung muda memagari kiri-kanan jalan semen itu. Beberapa pohon besar di halaman membuat suasana keseluruhan jadi teduh dan hening, jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas daerah sekitarnya.

Kalau kita tidak memperhatikan pintu gerbang masuk yang bercat merah menyala, tempat pembakaran kertas sembahyang berbentuk pagoda yang bercat merah pula, serta papan yang terpancang di atas pintu, kita tidak akan mengira bahwa gedung itu sebenarnya sebuah kelenteng.

Apalagi gaya bangunannya sama sekali tidak mirip dengan lazimnya kelenteng-kelenteng Tionghoa. Tidak ada atap melengkung dengan dua ekor naga berhadapan di bubungannya. Tidak ada pula tiang bendera besar dan cat merah serta keemasan yang biasanya dljumpai di mana-mana di sebuah kelenteng.

Memang tidak mengherankan, sebab gedung itu dulunya bukan kelenteng, melainkan rumah tuan tanah atau landhuis dari abad ke-18. Kaca-kaca besar di atas jendela dan pintu, pilar-pilar bergaya Yunani, lantai dengan ubin-ubin besar warna merah maupun arsitektur keseluruhannya, menunjukkan ciri-ciri sebuah rumah tuan tanah Belanda dan kurun waktu itu. Langit-langit ruangan yang ditopang balok-balok berat dan tangga kayu berukiran khas, persis serupa dengan yang terlihat pada rumah-rumah Belanda kuno di daerah kota. Tadinya rumah ini bertingkat dua, tetapi kemudian dibongkar. Bila hal itu terjadi, tak diketahui dengan tepat, mungkin sekali pada akhir abad ke-19.

Dalam keadaannya pada tahun 1979, bagian belakang (serambi belakang) rumah menjadi bagian depan kelenteng. Kalau dulu bernama Wang Kiap Si, kemudian diganti menjadi Vihara Buddhayana, biasa disebut orang Kelenteng Sentiong. Bagian belakang kelenteng itu telah mengalami berbagai perombakan sehingga menjadi sebuah bangunan modern yang tak karuan bentuknya.

Dibandingkan dengan rumah-rumah tuan tanah pada zaman itu, rumah ini tergolong sederhana, meskipun entah berapa kali mengalami perombakan. Rumah itu tampaknya tidak dimaksudkan untuk menampung keluarga besar atau banyak tamu sesuai gaya hidup di masa itu. Sekalipun demikian, rumah itu tadinya bertingkat dua. Hal itu tentu menaikkan gengsinya, tetapi belum bisa dikatakan mewah. Mungkin pemilik pertamanya bermaksud untuk mempunyai sebuah rumah peristirahatan jauh di luar kota.

Seperti halnya orang kaya masa kini membangun vila di Puncak. Kalau diingat bahwa pada masa pembuatan rumah itu batas kota sebenarnya di sekitar Pancoran-Glodok, dapat dibayangkan bahwa rumah di dekat Pasar Baru dan harus ditempuh dengan perjalanan satu jam berkereta, sangat jauh letaknya.

Di dalam rumah ini pernah ditemukan sebuah benda berasal dari Coromandel (India) berpahatkan bulan sabit dan kepala singa dengan tulisan "FJ. Coyett, Annoo 1736". Atas dasar ini diduga bahwa rumah tersebut dibangun dalam tahun 1736 oleh Frederik Julius Coyett, anggota Raad-ordinair Hindia. Keterangan-keterangan lain tentang pembangunannya tak diketahui. FJ. Coyett, seorang pejabat tinggi Kompeni yang menempuh karier cukup panjang, meskipun bapaknya pernah menjabat gubernur Ambon.