Showing posts with label Pasar Senen. Show all posts
Showing posts with label Pasar Senen. Show all posts

Sunday, April 5, 2015

Cikal Bakal Gereja Katedral

Gereja Katedral

Di Taman Kwitang, depan Gunung Agung, Prapatan, dulu mengalir sebuah kali yang cukup lebar dengan air lumayan bersih. Kali ini disebut Kali Baterai, menjurus dari Kali Ciliwung di barat, terus ke Kali Baru di timur sampai Galur dan bergabung dengan Selokan Bungur. Setiap sore Kali Baterai di depan Proyek Senen ramai dengan orang yang mandi dan mencuci.

Di Jalan Kenanga, persis di depan Firma Lauw Tjin (gedung ini sampai tahun 1985 masih ada) dulu ada sebuah gereja kecil. Luasnya hanya 23 x 8 meter. Ada kemungkinan gereja ini didirikan oleh Chastelein. Gubernur Jenderal Van den Bosch menikah di gereja ini pada tahun 1804. Sampai tahun 1829 gereja ini dipakai sebagai gereja Katolik Roma kotapraja. Kemudian Gereja ini di ganti dengan gereja baru, dan diberkati menjadi Gereja Katedral yang terletak  di sudut Waterlooplein. Berita tentang perobohan gereja lama dimuat dalam Javasche Courant tanggal 4 Februari 1830.

Tak dapat disangkal bahwa orang-orang Tionghoa dulu berperan serta dalam mengembangkan Weltevreden, khususnya daerah Senen. Mereka berusaha sebagai saudagar, petani, pengusaha kebun, tukang kayu, tukang besi bahkan pembuat arak. Mereka-lah yang mula-mula merambah hutan dan rawa untuk dijadikan perkebunan yang subur.

Salah seorang Tionghoa yang berhasil "mengabadikan" namanya dalam sejarah Pasar Senen (meskipun kurang jelas apa jasanya) adalah Letnan Tan Wang Seng. Di Segi Tiga Senen itu ada gang yang dikenal bernama Gang Wangseng (kini Jalan Senen Raya).

Burung Perkutut Pembawa Bahagia

Villa Weltevreden

Daerah belakang pasar, di sebelah barat Pasar Senen, dulu juga pemukiman orang-orang Tionghoa. Seperti pasarnya, rumah mereka pada mulanya juga masih berupa gedek. Yang menarik waktu itu adalah bahwa di depan hampir setiap rumah dipasang galah tinggi untuk menggantungkan kurungan burung perkutut. Konon burung itu "membawa kebahagiaan" bagi pemeliharanya.

Jalan Kenanga dulu adalah sebuah gang yang merupakan jalan pribadi masuk ke villa Weltevreden dari Jalan Gunung Sahari. Pintu gerbangnya persis di seberang mulut gang (Jalan Senen Raya). Kurang jelas kapan Jalan Senen Raya menghubungkan mulut Jalan Kenanga dengan Simpang Prapatan-Kramat mulai ada. Yang pasti daerah itu lalu berbentuk segi tiga, dan belakangan disebut Segi Tiga Senen.

Sampai Di Luar Batas Weltevreden

Jatinegara

Sejak tahun 1770 kawasan Pasar Senen itu meliputi pasar yang terletak di kiri-kanan Groten Zinderweg (Jalan Pasar Senen). Jadi sebagian ada yang di luar batas tanah Weltevreden. Suasana pada masa itu masih seperti pedesaan.masih banyak pepohonan. Jalan Pasar Senen dulu juga satu-satunya jalan yang menghubungkan Batavia dengan Meester Cornelis (Jatinegara).

Di sebelah timur pasar terdapat perumahan orang Tionghoa. Di belakang perumahan ini mengalir de Slokkan (Kali Baru). Selokan ini dulu dibuat oleh Gubernur Jenderal G.G. van Imhoff (1743-1750), yang mengalir dari Salemba dan Kramat, lalu membelok ke Bungur, untuk memudahkan pengangkutan kayu dari "pedalaman" ke kota Batavia.

Dari arah Gunung Sahari sebelum sampai simpang Jalan Kenanga, di sebelah kiri jalan ada Gedung Pertunjukan Wayang Orang Panca Murti. Gedung ini dulu bekas gudang beras. Tahun 1911 berubah fungsinya menjadi bioskop West Java, yang memutar film-film bisu. Kemudian tahun 1920 namanya berganti menjadi Rialto dan masih tetap memutar film bisu. Terakhir fungsinya berganti menjadi gedung pertunjukan wayang orang sampai sekarang. Hanya namanya sekarang Bharata.

Dulu di Senen juga ada jalan yang disebut Jalan Jagal. Tapi bukan berarti di situ ada tempat penjagalan, melainkan hanya tempat penampungan hewan-hewan yang akan dipotong. Tempat potongnya sendiri terletak di timur Gang Warung Panjang (Jl. Senen Raya IV), di tepi terusan Kali Lio. Tempat penjagalan itu berupa sebuah panggung. Bagian bawah panggung dibuat semacam kandang. Sapi atau kerbau yang akan dipotong dimasukkan ke kandang, lalu ditombak dari atas panggung. Kepalanya dipukul keras-keras sampai mati.

Hujan Abu Disangka Kiamat

Krakatau Meletus

Menurut catatan, pada tanggal 9 Juli 1826, sebagian besar Pasar Senen pernah terbakar. Ada kemungkinan sesudah terjadinya kebakaran inilah baru mulai dibangun rumah-rumah dari batu. Setelah menjadi Proyek Senen pasar ini pun pernah terbakar, yakni pada waktu ada kerusuhan Malari tahun 1974.
 
Di tahun 1883, Pasar Senen pernah ditimpa kejadian yang menghebohkan. Hari itu Jumat pagi, sekitar pukul 09.00. Matahari bersinar cerah dan suasana pasar sedang ramai. Tiba-tiba turun hujan abu. Orang-orang pun jadi panik, karena mendadak saja hari jadi gelap gulita. Orang tidak bisa melihat apa-apa. Di mana-mana terdengar ratap tangis, karena mengira dunia mau kiamat! Ternyata Gunung Krakatau meletus!
 
Hujan abu seperti itu terjadi lagi tahun 1912 dan 1918. Tetapi kejadian itu tidak lagi menimbulkan rasa takut di kalangan penduduk.

Saturday, April 4, 2015

Terdiri Atas Gubuk-Gubuk

Sampai 1815 Bangunan Di Pasar Senen Masih Gedek

Pasar Senen tadinya bernama Vinckepasser (Pasar Vinck). Tetapi karena hari pasarnya mula-mula hanya hari Senin, orang pun lalu menyebutnya Pasar Senen. Tahun 1751 Mossel menetapkan hari Senin dan Jumat sebagai hari pasar.

Berkat kemajuan dan ramainya pasar, baru sejak tahun 1766 pasar ini buka pada hari-hari lainnya. Ini juga disebabkan oleh tindakan Daendels yang membangun kompleks militer di sekitar Pasar Senen. la mendirikan perumahan opsir di sepanjang Jalan Kenanga, Kwini, Secang, Manjangan sampai Lapangan Waterloo (Lapangan Banteng). Barang-barang yang diperdagangkan di Pasar Senen pun tidak lagi hanya sayuran saja, tetapi juga keperluan sehari-hari.

Dalam Javasche Courant terbitan 22 September 1849 ditetapkan bahwa hari pasar adalah hari Minggu dan Selasa. Rupanya ini suatu kekeliruan.

Mulanya Pasar Senen ini hanya terdiri atas gubuk-gubuk. Sampai tahun 1815, di sana masih terdapat rumah gedek. Walaupun sudah ada rumah petak dari kayu, tetapi belum ada satu rumah tembok pun.

Jacob Mossel

Jacob Mossel 1704-1761

Sebelum meninggal, Vinck menjual Weltevreden pada Jacob Mossel tahun 1749. Sejak di tangan Mossel barulah Pasar Senen berkembang dan mempunyai arti bagi daerah Weltevreden. Mossel yang kemudian menjadi gubernur jenderal (1750-1761) menggali sebuah terusan, Kali Lio, dari Crote Rivier (Kali Ciliwung) menuju ke terusan yang mengalir sepanjang Gunung Sahari. Dengan demikian, jalan masuk ke pasar dengan perahu menjadi lebih mudah. Juga untuk menghubungkan vila mewah yang dibangunnya di tepi tikungan kali Ciliwung.
 
Vila Mossel mi dibangun dua tingkat dengan gaya Barok. Tamannya luas sekali. Pmtu gerbangnya saja terletak di Jalan Senen Raya sekarang. Di belakang vila ada kolam renang dan kolam ikan. Kompleks vila dan taman dikelilingi parit, sehingga mirip sebuah pulau kecil.
 
Sejak Mossel menjadi pemilik, rupanya lalu menjadi kebiasaan bahwa tanah Weltevreden itu dianggap sebagai milik pribadi gubernur jenderal selanjutnya. Setiap kali seorang gubernur jenderal meletakkan jabatan, tanah itu dijual kepada pengganti-nya. Pemilik terakhir yang tinggal di vila Weltevreden adalah Daendels, yang memerintahkan pembongkaran sebelum ia sendiri pindah ke Buitenzorg (Bogor). Bekas vila itu sekarang ditempati RSPAD Gatot Subroto.

Wednesday, April 1, 2015

Semula Kebun Sayur dan Sawah

Pasar Senen


Chastelein meninggal tahun 1714 dan Weltevreden pun jatuh ke tangan anaknya, Anthonij.  Anthonij kawin dengan Anna de Haan. Ayah Anna ini kelak menjadi gubernur jenderal. Anthonij tidak berumur panjang. la mati muda. Anna lalu kawin lagi dengan seorang ahli hukum, Mr. Johan Francois de Witte van Schooten, yang sesudah kematian Anna berusaha keras menjadikan dirinya ahli waris Anna. Ketika harus kembali ke Belanda pada tahun 1733, ia menjual Weltevreden kepada Justinus Vinck.
 
Justinus ini ternyata punya bakat bisnis. Setelah mendapat izin, tahun 1735 la mendirikan pasar di bagian timur Weltevreden, di dekat Croten Zuiderweg. Di atas tanahnya yang lain, di Tanah Abang, ia kemudian juga membuka pasar. Dan kedua pasarnya itu la hanya tinggal memungut cukainya saja.

Untuk memperlancar arus jual-beli, dua tahun kemudian Vinck membuka jalan dan jembatan yang menghubungkan kedua pasarnya. Yakm melewati Kampung Lima, Jembatan Prapatan sampai Simpang Senen — Kramat. Inilah jalan pertama yang menghubungkan timur dan barat Jakarta.

Cornelis Chastelein

Cornelis Chastelein di Srengseng

Pemilik Paviljoensveld berikutnya adalah seorang anggota Dewan Hindia Cornelis Chastelein yang tergolong kaya. Dia juga masih punya tanah lain di Srengseng. Seperti tuan tanah sebelumnya, ia juga menyewakan tanahnya, tetapi sebagian ada yang dijadikannya sawah. Ia menjemput budak belian dari Bali untuk mengerjakan sawahnya, karena tahu orang Bali terkenal ahli mengolah sawah.

Menurut Heuken, dalam bukunya Historical Sites of Jakarta, Chastelein memperoleh dua anak perempuan dari dua wanita Bali. Kedua anak ini juga disebutkan sebagai pewaris tanahnya di Srengseng, kecuali daerah Depok Selatan. Daerah yang terakhir itu disumbangkannya kepada para bekas budaknya yang menjadi pemeluk agama Kristen.

Dengan pembelian tanah-tanah baru di sekitarnya, tanah Weltevreden pun tambah luas, sampai ke Gunung Sahari. Chastelein lalu menyebut tanahnya itu "Weltevreden".

Bermula Sebagai Tanah Weltevreden


Pasar Senen 1776

Setelah Pasar  Senen dibongkar serta diganti dengan Pusat Perdagangan Proyek Senen di awal tahun tujuh puluhan, pemerintah DKI merencanakan untuk meremajakan Segi Tiga Senen (STS) juga sekitar Februari 1985. STS yang mayoritas meliputi bangunan toko itu terletak antara Jalan Senen Raya, Jalan Pasar Senen dan Jalan Senen Raya III, Jalan Kenanga). Alasan pembongkaran, karena kondisinya sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kota Jakarta waktu itu. Selanjutnya di tempat itu akan didirikan bangunan baru sebagai penataan lingkungan Senen.

Sejarah daerah Senen berkaitan erat dengan daerah yang bernama Weltevreden, karena dulunya termasuk bagian dari daerah itu. Di zaman dulu bangsa Belanda kebanyakan tinggal di kota lama atau yang dulu disebut Oud Batavia. Pusat kediaman mereka adalah kawasan yang disebut Kasteel, di dekat Pasar Ikan.

Pada akhir abad ke-17, kondisi lingkungan di dalam kota yang dikelilingi tembok waktu itu, dinilai semakin kurang sehat. Pusat kediaman itu lalu diperluas ke arah selatan, sampai batas antara Buiten Nieuwpoortstraat (Pintu Besar Utara) dan Glodok, di mana anak Kali Ciliwung mengalir sepanjang Jalan Pinangsia. Semula tak ada warga Belanda yang berani bermukim di luar batas itu, di seberang kali.

Akan tetapi kemudian para pegawai tinggi VOC yang umum-nya kaya-raya, mulai membeli tanah di "daerah selatan" itu. Di sana mereka mendirikan vila dan membuka kebun untuk tempat peristirahatan. Zaman sekarang barangkali seperti orang Jakarta pergi beristirahat ke Puncak. "Daerah selatan" ini adalah Weltevreden, Molenvliet West (Jl. Gajah Mada) dan Rijswijk (sekitar Harmoni). Weltevreden meliputi daerah yang di sebelah utaranya berbatas sampai Jalan Pos, di timur de Grote Zuiderweg (Jalan Gunung Sahari - Jalan Pasar Senen), di selatan Jalan Prapatan dan di barat dengan Kali Ciliwung.
Asal mula terbentuknya tanah Weltevreden dapat dilihat dari catatan yang berasal dari tahun 1632. Di situ disebutkan bahwa dulu ada sebidang tanah di tepi kali, yang disebut Paviljoensveld (Lapangan Pavilyun) di dekat Lapangan Banteng sekarang, milik Anthonij Paviljoen.

Tanah ini sebagian berupa hutan lebat, sebagian lagi tanah rawa, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk persawahan. Namun agaknya pemiliknya lebih suka menyewakan tanah itu kepada orang-orang Tionghoa saja, yang selalu menanaminya dengan sayuran dan tebu. Sedang untuk dirinya sendiri ia hanya menyisakan hak untuk berternak sapi.