Showing posts with label Oey Tambahsia. Show all posts
Showing posts with label Oey Tambahsia. Show all posts

Wednesday, April 1, 2015

Berakhir di Tiang Gantungan


 Digantung Di Depan Balaikota

Di dalam sidang Tambahsia tetap tidak mengakui perbuatannya, sekalipun tuduhan jaksa didukung oleh saksi-saksi dan bukti-bukti yang meyakinkan. Keluarga Oey minta bantuan Mr. B. Bakker, seorang pengacara tenar masa itu. Ia dijanjikan honor yang tinggi di samping hadiah seratus ribu gulden jika berhasil menyelamatkan tertuduh. Betapa pun pandainya Mr. Bakker, ia ternyata tidak bisa membantah bukti-bukti yang diajukan penuntut umum.

Akhirnya hakim ketua menjatuhkan hukuman mati di tiang gantungan kepada Oey Tambah. Mr. Bakker lalu mengajukan naik banding. Setelah perkara itu diteliti sekali lagi oleh Mahkamah Agung, mahkamah membenarkan dan memperkuat keputusan pengadilan sebelumnya. Harapan satu-satunya setelah itu hanya mohon grasi pada gubernur jenderal. Setelah lama menunggu, keluarlah surat ketetapannya: pejabat tertinggi itu menolak permohonan Oey Tambah.

Pada. hari yang ditentukan, Oey Tambah menaiki tiang gantungan dengan tenang dan wajah berseri. Ia berdandan rapi dengan baju Tionghoa dan celana putih. Kedua algojonya, Piun dan Sura, juga dihukum mati bersamanya. Berlainan dengan majikan mereka yang menghadapi maut dengan tenang, kedua pembantu pelaku kejahatan itu harus ditopang. Mereka tidak mampu berdiri akibat tidak makan beberapa hari.

Maka berakhirlah riwayat Oey Tambah yang menggemparkan seluruh lapisan masyarakat Betawi. Sampai lama dia menjadi buah bibir orang. Kisahnya ditulis menjadi buku syair. Ketika menemui ajalnya di tiang gantungan, uimurnya baru 31 tahun.


Di arena Adu Jago

Arena Adu Jago

Sementara itu Liem masih terus berusaha mengumpulkan bukti kejahatan Tambahsia. Di Tanggerang ia berhasil membujuk M.A Gunjing untuk bersedia menjadi saksi dalam perkara hilangnya kakak kandungnya. Di depan asisten residen ia mengungkapkan kecurigaannya terhadap Piun, yang secara sembrono mengenakan kain batik tulis milik kakaknya.

Dengan tambahan petunjuk baru itu polisi berhasil mendapat pengakuan Piun bahwa ia bersama Sura membunuh Mas Sutejo. Mereka menguburkan jenazahnya di kebun tebu, masih dalam lingkungan tanah Oey Tambahsia, atas perintah majikannya itu.

Polisi lalu mencari Oey Tambah untuk diminta keterangan, tetapi ia tak di rumah. Juga di Bintang Mas, Ancol, tak terlihat batang hidungnya. Ternyata pagi-pagi ia sudah pergi mengadu ayam di Pasar Asem (daerah Pecenongan). Para petugas mengejar ke arena adu ayam. Para petaruh gempar, karena mengira polisi menggerebek pertaruhan itu. Petugas menghampiri Oey Tambah. Ia sangat terperanjat, tetapi masih yakin bahwa uangnya akan menyelamatkan dirinya. Ketika tangannya diborgol, Tambah baru menyadari bahwa ia terkena tuduhan berat, bukan sekedar persengketaannya dengan Tan Eng Goan.

Di tempat tahanan Oey dijaga ketat dan langsung di bawah pengawasan schout (pejabat kepolisian). Ia masih berusaha menyuap seorang opas untuk menyampaikan pesan kepada adik kandungnya di rumah. Opas itu disuruh membawa tongkatnya yang bertombol emas. Pesuruh itu tertangkap ketika akan memasuki rumah Oey Makau di Patekoan. Ketika diperiksa, ternyata di dalam tombol emas itu terdapat secarik kertas berisi pesan. Makau diminta menyuruh Piun dan Sura kabur secepatnya, karena kesaksian mereka bisa memberatkan perkaranya. Kertas berisi pesan itu nantinya malah menjadi bukti memberatkan di sidang pengadilan.

Rahasia Kue Beracun

Racun Dalam Roomvla

Di rumah, Liem secara kebetulan mendengar dari salah seorang pembantu rumah tangganya bernama Jiran, bahwa kakak perempuannya bekerja pada Oey Tambahsia sebagai koki. Koki ini mengatakan bahwa ia disuruh membuat kue secara misterius dan disimpan di kamar tidur. Ia melihat majikannya memasukkan bubuk ke dalam kue itu.
 
Liem sangat tertarik mendengar kisah yang mungkin akan mengungkapkan rahasia peracunan itu. Ia memerintahkan Jiran agar minta kakaknya datang untuk bisa diminta keterangan lebih terperinci.

Dari juru masak itu Liem mendapat keterangan bagaimana Tambahsia memasukkan bubuk tertentu ke dalam roomvla yang dibuat secara terpisah, kemudian mengisikan sendiri ke kue di kamar tidurnya.

Liem tak membuang waktu lagi untuk melaporkan penemuan-nya kepada Asisten Residen Keuchenius, yang bertugas menangani perkara-perkara kepolisian. Keuchenius tidak menerima keterangan baru itu begitu saja, tetapi minta bukti-bukti.

"Mudah saja," jawab Liem, "kalau Anda segera melakukan penggeledahan di rumah Tambah, barangkali masih bisa menjumpai barang bukti, seperti sisa racun dan sebagainya."

Hari masih pagi sekali ketika asisten residen memimpin sepasukan polisi melakukan penggerebekan di rumah Oey Tambah keesokan harinya. Yang bersangkutan ternyata tak ada di rumah. Dalam penggeledahan itu ditemukan sisa kue yang belum termakan dan sebuah mangkuk berisi roomvla di kolong ranjang. Tambahsia rupanya lalai untuk menyingkirkannya atau terlalu yakin bahwa ia takkan pernah dituduh melakukan peracunan.

Menurut pemeriksaan polisi, racun yang diadukkan dalam roomvla itu sama dengan yang ditemukan dalam tubuh korban Cun Ki.

Liem Su King Pada Akhirnya Bebas

Liem Su King di Tahan

Sementara itu Liem Su King berhasil ditemukan di tempat perjudian di Jatinegara oleh orang-orang suruhan mertuanya. Dia sangat terkejut mendengar tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Ia segera menghadap mertuanya untuk menyatakan bahwa dirinya tak tahu-menahu perkara pembunuhan itu. Kemudian ia langsung melapor ke polisi.

Polisi terpaksa menahannya karena menurut bukti-bukti tertulis, Liem terlibat dalam peracunan. Sementara itu mereka mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi lain untuk menyusun perkara.

Tan Eng Goan pun tidak tinggal diam dalam usaha menyelamatkan menantunya. Ia memperoleh keterangan bahwa Liem tidak berada di tempat kejadian waktu peristiwa peracunan itu. Ia mempunyai alibi kuat yang disaksikan empat orang. Kegemarannya main judi ternyata menyelamatkannya dari perangkap yang dibuat Tambahsia. Empat orang kawan mainnya di rumah judi, di antaranya seorang jaksa dari Bekasi, membuat pernyataan di bawah sumpah. Polisi yang memang tidak yakin akan kesalahan Liem kemudian membebaskannya dari tahanan.

Mas Tejo Hilang

Mas Tejo Hilang

Sementara itu mata-mata di antara para pelayan Pasar Baru agaknya member laporan negatif tanpa berdasarkan pada fakta, sehingga menimbulkan rasa cemburu dan kemarahan pada Tambahsia. Sejak semula ia memang sudah curiga dan bersyak-wasangka. Kecurigaannya makin kuat melihat hubungan kakak-beradik yang sangat erat itu. Lagipula penampilan Mas Tejo gagah dan beda usianya tak jauh dengan Gunjing. Belum lagi bahwa dengan latar belakang sebagai bekas penghibur, Gunjing tentu punya banyak pacar.
 
Terbakar oleh cemburu buta, Tambahsia menyuruh kedua tukang pukulnya, Piun dan Sura, menyingkirkan lelaki Pekalongan itu. Kedua jagoan bayaran yang sudah berpengalaman itu melaksanakan perintah tersebut dengan rapi dan cepat, sehingga pada suatu malam Mas Tejo tidak pulang ke wisma Pasar Baru. Tak seorang pun memberitahukan kepada adiknya ke mana perginya. Lelaki itu jatuh sebagai korban kekejaman Tambahsia yang ke sekian.

Hanya saja si Piun membuat kesalahan fatal. Melihat kain batik tulis yang dikenakan korbannya, timbul sifat tamak untuk memilikinya. Sura masih mengingatkan untuk membuang kain itu saja, tetapi tak dihiraukannya.

Monday, March 30, 2015

Tamu dari Pekalongan

Batik Pekalongan

Sementara itu di tempat lain berlangsung sebuah lakon lain. Pada suatu hari rumah Tambahsia kedatangan seorang berpakaian seperti priyayi Jawa. Ia mengaku bernama Mas Sutejo, datang dari Pekalongan untuk mencari adiknya, Mas Ayu Gunjing. Meskipun agak kurang senang dan curiga kepada lelaki Jawa yang tampan itu (Gunjing tak pernah menyebut-nyebut punya kakak lelaki), Tambahsia menyuruh anak buahnya mengantarkan tamu itu ke Pasar Baru, Tanggerang.

Kedatangan Mas Sutejo di Pasar Baru disambut hangat oleh Mas Ayu Gunjing, sebagaimana layaknya saudara yang datang dari jauh.

Pada masa itu perjalanan Pekalongan-Jakarta cukup jauh makan waktu beberapa hari dengan kereta pos ditarik kuda. Wajar bahwa Gunjing menawarkan kepada kakaknya untuk tinggal lebih lama di Tanggerang sebelum pulang kembali. Mas Tejo pun rupanya betah tinggal di rumah besar dikelilingi kebun yang luas, dengan pelayan yang setiap waktu memenuhi permintaanya. Ia jadi tinggal lebih lama daripada rencana semula. Mungkin juga ia belum cukup melepas rindu kepada adiknya yang tercinta itu.

Selain menyanyi dan menari, Gunjing juga pandai membatik. Waktu luangnya dihabiskan dengan membuat kain-kain batik halus. Kepada Sutejo ia juga menghadiahkan sehelai hasil karyanya sebagai kenang-kenangan, yang langsung dikenakan oleh kakaknya itu.

Fitnah Berencana

Glodok

Cun Ki masih juga tidak mempercayai kata-kata majikannya. Barangkali ia tak menyangka majikannya bisa berbuat sekeji itu. Lambat-laun racun itu mulai bekerja. Ia merasakan perutnya mulai sakit. Ia terus-menerus mereguk teh, dengan harapan sakitnya makin berkurang, tetapi sebaliknya, nyeri itu bertambah parah.

Ketika sakitnya tak tertahan, Cun Ki menjerit ketakutan dan melupakan hubungannya dengan majikannya. Ia mencaci maki Tambahsia sebagai manusia kejam dan jahat. Ia menanyakan apa alasannya dirinya hendak disingkirkan secara kejam itu? -

Oey Tambah menghiburnya dengan mengatakan bahwa kematiannya takkan sia-sia, sebab ada tujuannya. Lalu ia membujuk bekas kaki-tangannya itu agar mau memberi keterangan tertulis bahwa yang memberikan racun ialah ... Liem Su King.

Keadaan Cun Ki makin lemah, sehingga ia tak berdaya melawan kehendak majikannya. Mungkin juga dia memang manusia berjiwa budak yang tak sanggup berpikir lain. Ia setuju saja dibuatkan keterangan tertulis di depan notaris yang dipanggil oleh Tambah, dan disaksikan oleh polisi serta petugas lain.

Menurut pengakuan yang didiktekan Tambah itu, Cun Ki disuruh menagih hutang kepada Liem, tetapi tidak dibayar. Sebaliknya, ia dipersilakan duduk dan diberi minuman. Ketika perutnya mulai terasa nyeri ia curiga, lalu melapor kepada Tambahsia.
 
Tak lama setelah menandatangani pernyataan itu Cun Ki meninggal, Mayatnya dibawa ke Stadsverband (rumah sakit) di Glodok untuk diperiksa. Sementara itu Tambahsia mengirimkan peti jenazah dan perlengkapan lain ke rumah keluarga Cun Ki di Jembatan Lima. Setelah polisi membuat proses verbal, mereka segera mencari Liem Su King, yang dituduh sebagai pembunuh .Di rumahnya didapat keterangan bahwa orang itu sudah empat hari tidak pulang. Di duga ia sedang asyik main judi di rumah perkumpulannya.

Sunday, March 29, 2015

Rencana Keji

Rencana Keji

Setelah rencana itu masak, Ia menyuruh kokinya membuat kue berisi roomvla. Setelah siap kue-kue itu dihidangkan di atas piring di kamar tidurnya. Oey mengambil racun, lalu mengaduknya dengan saksama ke dalam roomvla itu. Kemudian la memerintah-kan untuk memanggil seorang kaki-tangannya, Oey Cun Ki (Ceng Ki). Antek yang biasa disuruh mencari perempuan itu bergegas ke rumah majikannya. Ia mendapatkan Oey sedang tidur-tiduran sambil mengisap madat. Tambah mempersilakan anteknya ikut mengisap, dan tawaran itu diterima dengan senang hati. Sesudah mengisap dan merenguk teh bersama, Cun Ki merasa lapar dan makan kue-kue yang tersedia di piring tanpa dipersilakan lagi. Majikannya mengamatinya dengan mata setengah terpejam sampai la menghabiskan dua buah dengan lahapnya.

"Kau makan kue itu, Ki?" Oey pura-pura bertanya.
"Ya, Sia. Maafkan, saya sangat lapar ..," jawab Cun Ki agak takut-takut kena marah.
"Wah, celaka!" seru Tambahsia. "Kali ini kau mati, sebab kue itu beracun!"
Cun Ki tenang-tenang saja, lega bahwa majikannya tidak memarahinya. "Sia, jangan main-main ah!"
"Betul!" Tambahsia bangkit, seperti hendak memberi penekanan pada kata-katanya. "Sungguh kau harus mati. Tetapi jangan khawatir. Aku akan mengurus segalanya dan menjamin hidup keluargamu kalau kau mau menuruti kehendakku!"

Oey Tambah Murka dan Dendam

Pecinan Batavia

Sewaktu memenuhi undangan Bupati Pekalongan, Tambah berkenalan dengan seorang pemuda Tionghoa bernama Liem Su King anak letnan Tionghoa di kota itu. Liem pindah ke Betawi untut membangun kehidupannya. Agaknya ayahnya tidak meninggalkan warisan besar, sehingga ia tak mungkin hidup tanpa bekerja

Liem akhirnya dipungut menantu oleh Mayor Tan Eng Goan karena terkenal sebagai orang muda yang berkelakuan baik pandai dan rajin. la dinikahkan dengan salah seorang putri dari selirnya.

Berkat koneksi mertua ia diangkat menjadi kuasa gabungan pemborong (pachter) madat yang merupakan usaha gabungarn dari lima orang pemuka Tionghoa, termasuk Tan Eng Goan. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda memonopoli semua pembuatan dan perdagangan madat. Pemasarannya diserahkan  kepada para pachter itu.

Sekalipun Liem Su King pernah berkenalan dengan Tambahsia di Pekalongan, perkenalan itu tidak dilanjutkan di Betawi. Liem lebih dekat dengan para pemuka Tionghoa lawan-lawan Tambah, di samping kedudukannya sebagai menantu Tan Eng Goan. Pada suatu hari Tambahsia mendengar dan kaki tangannya bahwa seorang wanita kerabatnya jatuh hati kepada Liem. Usaha pendekatan Oey untuk menghalangi tidak mendapat tanggapan. Oey menganggap itu sebagai penghinaan dan aib besar bagi keluarganya. Barangkali di samping peristiwa itu, dia sudah lama menaruh dendam kepada Liem Su King. Dia menganggap Liem sebagai antek para pejabat Tionghoa. Dia merasa diremehkan karena Liem tidak melanjutkan perkenalan mereka di Pekalongan.

Boleh jadi dendam itu juga makin dikobarkan oleh para antek dan penjilat yang selalu mengelilinginya, sehingga Oey bertekad untuk menyingkirkan Liem. Tetapi hal itu tidak semudah dilakukan seperti pada korban-korbannya yang lam. Liem Su King selalu dikawal ke mana pun perginya. Lagipula ia sudah mendengar tentang ancaman Tambahsia, sehingga ia selalu hati-hati dan waspada.

Oey bertambah geram melihat anak buahnya tak berdaya melenyapkan Liem. Pada suatu hari terpikir olehnya untuk melakukan muslihat keji, yakni menyingkirkan musuh dengan meminjam tangan orang lain.

Saturday, March 28, 2015

Menggaet pesinden

Pesinden

Pada suatu hari Tambahsia mendapat undangan dari bupati Pekalongan untuk menghadiri pesta khitanan putranya yang pertama. Seperti diketahui, Raden Ayu Bupati ialah kakak kandung Oey. Ia menerima undangan itu dengan senang hati, lalu berangkat ke Pekalongan bersama beberapa kaki-tangannya. Pemuda kaya itu tak lupa membawa buah tangan cukup untuk tuan rumah, berupa bahan makanan serta minuman untuk perhelatan dan kembang api. Hadiah-hadiah itu dikirim dengan kereta barang khusus mendahului keberangkatannya.

Pesta meriah di Kabupaten Pekalongan makin semarak, karena diramaikan seorang pesindein tenar bernama Mas Ajeng Gunjing. M.A. Gunjing itu sebenarnya putri seorang bekas camat. Konon dia menjadi penyanyi karena pernah sakit berat dan mendekati ajal semasa kecil. Sesuai nasihat para orang tua, ayah dan ibunya melakukan nadar bahwa setelah sembuh kelak, anak itu akan belajar menjadi pesinden. Setelah dewasa Gunjing ternyata berkembang menjadi seorang putri cantik yang pandai menari dan melagukan tembang. Kemerduan suaranya konon tiada tandingannya di daerah Pekalongan.

Si mata keranjang Oey segera tertarik dan jatuh hati kepada pesinden jelita itu. Pelbagai cara ditempuhnya untuk mendekati dan membujuknya. Ternyata ia tak bertepuk sebelah tangan. M.A. Gunjing tidak menolak uluran tangan Tambah, bahkan menyambutnya dengan senang. Sebelum pesta di kabupaten resmi berakhir dan Tambahsia pulang, pesinden rupawan itu sudah diboyong ke Cirebon, kemudian terus dibawa ke Betawi oleh para suruhan Tambah. Setibanya di Betawi ia sementara ditempatkan di pesanggrahan Ancol yang membuat para penghuni lama merasa kurang senang.

Seminggu setibanya di Bintang Mas, gunjing jatuh sakit. Entah karena hawa ancol yang tak sehat atau akibat sikap para penghuni Bintang Mas yang lain. Ketika melihat koleksi terbarunya sakit, Oey Tambah buru-buru memindahkannya ke Tanggerang, ke tanah Pasar Baru miliknya. Tambah mengawasi perawatannya sampai sembuh secara pribadi, sehingga ia lebih banyak berada di Tanggerang daripada di tempat lain.

Bagaimanapun sayangnya Tambahsia terhadap Gunjing, ia tetap tidak meninggalkan segala kebiasaannya yang tak terpuji. Ia tetap memburu gadis, janda maupun istri orang. Para pemuka masyarakat Tionghoa dan anggota Dewan Tionghoa tidak mampu mengambil tindakan penertiban, apalagi masyarakat luas. Dendam  mereka pendam dalam-dalam, dengan keyakinan bahwa suatu  ketika Tambahsia akan ketemu batunya dan mendapat pembalasan sepadan dengan segala perbuatan jahatnya. Sementara itu Tambah sendiri makin takabur. Dia merasa tak ada kekuatan yang memampu mengekangnya.

Playboy yang Tambah Ganas

Jalan Patekoan

Hari baik itu ternyata terpilih dua bulan kemudian. Waktu itu usia Oey Tambah baru tujuh belas. Pada zaman sekarang, pemuda umur sekian masih tekun belajar, atau asyik main kebut-cebutan. Tetapi untuk zaman itu sudah dianggap pantas untuk berkeluarga, apalagi kalau keuangan cukup.

Menjelang pesta pernikahannya, Tambahsia menutup jalan umum Patekoan dari Jembatan Toko Tiga sampai ujung jalan Patekoan dan mendirikan tarup (tenda) di atasnya. Menurut ketentuan, penutupan jalan dan pemasangan tarup harus minta izin lewat para pejabat Dewan Tionghoa. Oey Tambah rupanya sengaja tak mau minta izin, untuk menunjukkan bahwa ia tidak membutuhkan para pemuka itu. Tan Eng Goan berusaha melarang penutupan jalan itu, tetapi bawahan yang ditugaskan diusir oleh Oey. Tan kemudian mengadukan pelanggaran itu langsung kepada asisten residen. Pejabat itu segera memanggil penduduk yang bandel itu untuk menghadap.

Kepada petugas yang membawa surat panggilan, Tambah menjanjikan akan segera menghadap, tetapi nyatanya ia langsung menemui residen. Agaknya ia kenal atau setidak-tidaknya punya koneksi dengan pejabat itu. Alhasil ia bukannya dituntut atas pelanggaran itu, malahan diizinkan menutup jalan umum itu selama satu bulan.

Pesta kawin itu konon belum pernah ada bandingannya di kota Betawi. Pesta pora yang diramaikan wayang Tionghoa, tayuban, arak-arakan, kembang api dan lain-lainnya berlangsung sampai beberapa hari dan malam. Para pejabat Belanda yang diundang ikut menghadiri pesta meriah itu, sedang para pemuka Tionghoa tiada yang hadir.

Harapan ibunya agar Tambahsia akan menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab ternyata tak terpenuhi. Hanya sebulan Oey betah tinggal di rumah menikmati bulan madunya. Setelah itu kebinalannya kambuh .Ia hampir tak pernah pulang. Sebagian besar waktunya dilewatkan di Bintang Mas Ancol, untuk bersenang-senang dengan istri bekas tukang kelontong itu.

Agaknya dia belum puas dengan istri sah dan sejumlah simpanan tetap maupun sementara. Ia masih saja memangsa anak orang.Gadis-gadis banyak yang menjadi korban nafsunya. Konon para orang tua di Betawi makin ketat mengurung anak dara mereka. Mereka bahkan dilarang melongok dari pintu atau jendela rumah, karena khawatiri riwayat gang Kenanga akan berulang. Tambahsia jadi lebih sering memangsa istri-istri orang dengan bantuan kaki tangannya karena gadis sukar diperoleh lagi.

Playboy Cari Jodoh

Tikungan Jalan Pasar Senen ke Gang Kenanga di Sebelah Kanan

Istri tukang kelontong itu menjadi "simpanan" kesayangan Tambahsia. Ibunya khawatir anaknya akan menjadikan janda itu istrinya yang sah. Maka Nyonya Oey membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali seperti orang tua pada zaman itu, ia juga mengharapkan kebinalan anaknya akan berkurang setelah menikah secara resmi. Tambahsia tidak menolak saran itu, tetapi mengajukan syarat. Ia harus menentukan sendiri pilihannya. Pada masa itu tidak lazim bahwa seorang muda menentukan jodohnya sendiri. Biasanya orang tuanyalah yang mencarikannya.

Ibunya terpaksa menyetujui syarat itu, meski ia sendiri tak tinggal diam.Ia memesan kepada sanak keluarganya maupun teman-teman serta para kenalan baik agar mencarikan calon mantu dari keluarga baik-baik. Harapannya ialah bahwa calon itu nanti bisa ditunjukkan kepada Tambah secara tak langsung. Dengan demikian pemuda itu tak akan tahu bahwa calon itu sebenarnya pilihan ibunya. Sementara itu Tambahsia sendiri juga tak berpeluk tangan. la berusaha mencari gadis idaman dengan caranya sendiri.

Tiap sore ia keliling kota menunggang kuda kesayangannya sambil pasang mata. Ia memang terkenal sebagai penunggang kuda yang mahir dan bergaya. Selain itu la mempunyai koleksi kuda tunggang pilihan. Salah seekor kuda kesayangannya, blasteran Arab-Sandelwood, konon tiada tandingannya di seluruh Betawi. Pelana kuda itu dipesan khusus dengan hiasan perak.

Di masa pra kendaraan bermotor, kuda atau kereta merupakan lambang kedudukan seseorang. Di samping itu Tambahsia gemar berpakaian model Barat, hal mana menyimpang dari kebiasaan masyarakat Tionghoa waktu itu. Ia memang seorang dandy. Pakaian-nya selalu terbuat dari bahan-bahan mahal dan berpotongan bagus, sehingga makin menambah penampilannya.

Safari Tambahsia di kota Betawi (yang disebut 'kota' hanyalah sekitar Glodok - Pancoran sampai Pasar Ikan) tidak membawa hasil, karena anak perawan pada zaman itu dipingit. Apalagi reputasi Tambahsia terkenal buruk. Ia lalu memutuskan memper-luas daerah perburuannya sampai 'kampung' Pasar Baru dan Senen.

Pada suatu hari Oey sedang menunggang kuda di Gang Kenanga. Tiba-tiba kudanya dikejutkan oleh sebuah peti kayu yang jatuh dari loteng salah sebuah rumah di situ. Anak gadis keluarga Sim yang biasanya dipingit ketat, menengok dari atas loteng ketika mendengar kegaduhan di bawah. Ia melihat seorang pemuda gagah berusaha mengendalikan kuda hitamnya. Di lain pihak, penampilan nona cantik sepintas di atas loteng tidak luput dari mata Tambahsia. Pandangan mereka bertemu sejenak, sama-sama terperanjat, sama-sama kagum.

Oey segera memutar tunggangannya kembali ke kota dengan santai. Dia merasa telah menemukan yang dicari-carinya selama ini. Tanpa menunda-nunda lagi ia memberitahukan ibunya.

Tak lama kemudian dikirim utusan ke rumah keluarga Sim di Gang Kenanga untuk membicarakan pinangan. Oey Tambah mengajukan syarat yang pada masa itu hampir tidak mungkin diterima pihak orang tua gadis. Ia ingin melihat dara idamannya dengan mata kepala sendiri. Permintaan yang dinilai sangat tidak sopan itu mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh keluarga itu, kalau yang mengajukan bukan Tambahsia yang terkenal kaya raya dan anak Oey Thay Lo. Lagipula keadaan keuangan keluarga itu agak terdesak, sehingga syarat itu terpaksa diluluskan juga. Pinangan Oey Tambah diterima dan tanggal pernikahan akan ditentukan kemudian.

Friday, March 27, 2015

Merebut Istri Orang Lain

Ancol

Sementara itu ulah Tambahsia makin menjadi-jadi. Yang merisaukan masyarakat Tionghoa ialah kesukaannya mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang. Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya ia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya, dan biasanya berhasil. Terkadang ia pun mempergunakan kekerasan. Lebih tepat-nya, para kaki-tangannyalah yang melakukan kekerasan atau segala cara, karena mengharapkan hadiah besar dari tuannya.

Oey memiliki sebuah rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya dipakai untuk bersenang-senang bagi pemiliknya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan para wanita yang berhasil dibujuk kaki-tangannya atau tempat menyimpan mereka.

Pada suatu hari seorang kaki-tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Wanita itu ternyata sudah ber-suamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang mak comblang, Tambahsia berhasil memikat wanita muda yang hidupnya kekurangan itu. Sementara suaminya berkeliling menjajakan dagangan, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh si suami. Pada puncak pertengkaran, si istri diam-diam meninggalkan rumahnya untuk selanjutnya menetap di Ancol. Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tapi tak ada yang tahu ke mana larinya nyonya itu. Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang waktu lagi ia mencari ke sana.

Di depan pesanggrahan itu ia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Ia tak bisa masuk karena dihalangi penjaga. Mereka bahkan berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil. Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang kesetanan itu. Tambahsia menyuruh orang-orangnya menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat itu.

Kereta berkuda yang membawa pasangan itu bergerak ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan, segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Dalam waktu singkat ia sudah tertinggal jauh. Tapi ia masih nekad mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk kehabisan tenaga. Sejak itu ia tak pernah terlihat lagi. Ia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat. Konon ia bunuh diri dengan mencebur ke laut, tetapi mayatnya tak pernah diketemukan.

Peserta Lelang yang Misterius

Mayor Tan Eng Goan

Oey Tambah yang masih remaja boleh dikata kejatuhan harta karun sebesar itu tanpa pernah bekerja apa-apa. Rupanya harta tiban itu mengguncangkan jiwa remajanya. Sepeninggal ayahnya ia makin menunjukkan tabiat buruk dan tingkah laku yang tak terpuji. Agaknya dia sama sekali tak berniat untuk melanjutkan usaha perdagangan ayahnya. Apalagi ambisi untuk menjadi pemuka masyarakat, yang menurut pahamnya hanya menjadi budak orang lain.

Salah satu ulah menghamburkan harta ayahnya ialah kebiasaan-nya yang menjadi mitos bagi orang-orang sezamannya. Dia selalu membersihkan diri dengan lembaran uang kertas setelah melakukan hajat besar di Kali Toko Tiga di depan rumahnya. Tak mengherankan bahwa tiap pagi terjadi perkelahian berdarah di antara orang-orang yang memperebutkan lembaran uang kertas di sungai itu.

Pameran atau adu kekayaan itu terjadi lagi pada suatu hari di tempat pelelangan. Seorang Belanda anggota Dewan Hindia akan pulang ke negerinya. Menurut kebiasaan zaman itu, perabotan rumah tangganya dilelang. Para penawar umumnya terdiri dari para sahabat, kenalan atau relasinya. Mereka sengaja menawar lebih tinggi daripada harga sebenarnya, dengan maksud memberi sekedar bekal kepada yang bersangkutan. Pelelangan barang pejabat tinggi itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Tionghoa Betawi, terutama para pemukanya.

Dalam lelang itu ditawarkan sebuah meja rias bercermin. Mayor Tan Eng Goan menawarnya f 100, suatu harga yang sudah di atas pasaran. la heran bahwa ada yang berani menawar dua kali lipat. Demi gengsi ia menaikkan tawarannya,menjadi f 300. Ternyata penawar tak terkenal itu berani membayar f 500. Tan jadi penasaran mencari orangnya, tetapi tak bisa menemukan.

Kemudian dilelang sebuah meja tulis kayu berukir indah. Dimulai dengan lima puluh gulden, harga penawaran barang itu terus meningkat sampai dua ribu. Rupanya penawar tersembunyi itu beraksi lagi. Tan Eng Goan merasa panas hati, karena seakan ditantang lagi. la menaikkan penawarannya sampai f 5.000. Tetapi agaknya penawar misterius yang menyampaikan penawarannya secara rahasia pada juru lelang memang mempunyai dana tak terbatas. Tan menyerah ketika harga mencapai sepuluh ribu. Hadirin keheranan akan munculnya penawar misterius itu. Rupanya dia memang sengaja mau menjatuhkan martabat pemimpin masyarakat Tionghoa itu di muka umum.

Dengan geram Tan mencoba mencari keterangan, siapa gerangan pembeli yang menutupi identitasnya itu. Juru lelang tidak bersedia mengungkapkannya. Akhirnya Tan berhasil juga mendapat keterangan bahwa Oey Tambah yang bermain di belakang layar. Pemuka itu makin geram dan dendam, tetapi ia masih berusaha menahan diri. Ia mengingat hubungan baik dengan mediang ayah Tambahsia. Ia tidak mau mengambil tindakan apa pun ketika para rekannya anggota Dewan Tionghoa mendesaknya untuk memberi pelajaran kepada anak muda yang congkak itu. Tan Eng Goan malah mengirim utusan pribadi untuk berusaha membujuk Tambahsia agar mau mengubah sikap dan tingkah lakunya. Dia bahkan menawarkan kedudukan luitenant der Chmezen yang masih lowong sepeninggal ayah Oey. Tambahsia menolak mentah-mentah uluran tangan itu.

Letnan Oey Thoa

Kongsi Besar Batavia

Selesai lelang Oey dihampiri “Mayor” Tan Eng Goan, salah seorang pemimpin masyarakat Tionghoa terkemuka di Betawi masa itu. Pemuka itu mengajaknya pulang bersama naik kereta. Persahabatan antara keduanya meningkatkan gengsi Oey di mata masyarakat Tionghoa. Pada suatu ketika Tan mengusulkan kepada pemerintah Belanda agar Oey diangkat menjadi letnan dan anggota Dewan Tionghoa (Kong Koari).

Oey mempunyai empat orang anak. Yang pertama seorang putri, telah dinikahkan dengan putra bupati Pekalongan, yang kelak akan menggantikan ayahnya. Yang kedua seorang putra bernama Holland (Holan), ketiga Tambah dan keempat Makau atau Mako.

Menurut penuturan orang, Oey pindah ke Betawi karena menikahkan anak sulungnya dengan putra bupati, yang merupakan sahabat karibnya sejak dulu. Masyarakat Tionghoa agaknya tidak bisa menerima perkawinan campuran itu. Mereka melakukan berbagai tekanan serta fitnah kepada Oey sehingga ia terpaksa meninggalkan kota itu.

Setelah beberapa tahun menjabat kedudukan sebagai luitenant der Chinezen yang menguasai onderdistrict Kongsi Besar, Oey tiba-tiba meninggal. Selama menjabat ia melakukan tugasnya dengan baik, sehingga diberi nama kehormatan Oey Thay Lo, yang berarti Oey yang besar dan tua.

Waktu meninggal usia Oey baru lima puluh tahun. Anaknya Tambah, yang biasa dipanggil Oey Tambahsia (sia adalah semacam gelar kehormatan bagi anak laki-laki orang berpangkat)-baru berumur lima belas. Biarpun masih remaja, Tambah sudah terkenal sebagai pemuda rupawan dan gemar berdandan. Pagi dan petang ia gemar naik kuda keliling kota. Kepalanya bertopi karpus sutera. Pakaiannya model Tionghoa tampak sangat rapi. Dia juga terkenal sebagai pemuda yang sangat royal. Sifat lainnya jalah bahwa ia tak suka bergaul dengan anggota masyarakat ramai. Sekalipun ia anak seorang pemuka Tionghoa, agaknya ia menghindari para pemuka lainnya. Ke mana-mana ia diikuti beberapa orang kaki-tangannya.

Seratus hari sepeninggal bapaknya, Tambah sering terlihat berpesiar dengan kereta yang dihela kuda-kuda poni. Pada kusir, dia berpesan untuk memperlambat jalannya jika melewati kediaman seorang pejabat Tionghoa. Menurut kelaziman masa itu, setiap orang Tionghoa yang melewati kediaman pemuka masyarakatnya harus membuka tutup kepala sebagai tanda penghormatan. Tambahsia sengaja memperlambat kendaraannya agar para pemimpin Tionghoa itu melihat bahwa dia akan melakukan penghormatan itu.

Pada suatu hari salah seorang anggota Dewan Tionghoa, The Kim Houw, mengunjungi Oey Tambah untuk menasihati agar tidak bersikap sombong dan takabur, serta mengandalkan harta peninggalan ayahnya untuk meremehkan para pemuka. Mereka itu semua sahabat ayahnya. Oey sama sekali tidak menggubris nasihat The yang sebaya ayahnya, bahkan mempermalukannya dengan kurang hormat. Dia bersikap begitu karena tahu bahwa banyak di antara para pemuka Tionghoa itu menerima sumbangan keuangan dari mendiang ayahnya. Lagipula dia bersama adiknya menerima warisan sangat besar. Antaranya beberapa bidang tanah luas di Pasar Baru, daerah Curug, Tangerang yang sewanya f 95.000 setahun; daerah Pintu Kecil Jakarta yang sewanya 40.000 gulden setahun.Di samping itu juga tanah, barang dagangan, uang dan perhiasan sejumlah dua juta gulden lebih.

Playboy Betawi

Pintu Kecil Batavia

Bagi orang yang lahir di Jakarta jaman dulu, nama itu sudah sangat dikenal. Bukan karena uangnya saja, tetapi ulahnya yang membuat orang tua gadis-gadis cantik khawatir setengah mati. Namun akhirnya Oey Tambahsia kena batunya juga.

Pada tahun 1837, Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai. Toko tembakau terbesar di jalan itu milik seorang pedagang besar Tionghoa asal Pekalongan, bernama Oey Thoa. Meskipun belum lama menetap di Betawi, Oey sudah cukup terkenal. Bukan saja karena kebesaran usahanya, tetapi juga kedermawanannya. Konon Oey mempunyai kebiasaan memberi sedekah kepada orang miskin setiap tanggal satu dan lima belas penanggalan Tionghoa, saat dia bersembahyang di Kelenteng Kim Tek le.

Beberapa tahun kemudian Balai Harta Peninggalan menyelenggarakan lelang. Pelelangan hari itu lebih istimewa, karena bukan saja meliputi barang-barang, perabot rumah tangga dan lainnya, tetapi juga tanah. Tanah Pintu Kecil yang akan ditawarkan itu di sebelah barat berbatasan dengan Kali Pekojan, sebelah timur dengan Kali Besar, sebelah selatan dengan Kali Tongkangan dan sebelah utara dengan Kali Kampung Melaka.

Setelah barang-barang bergerak selesai dilelang, kepala juru lelang menawarkan tanah itu kepada penawar tertinggi. Dia menambahkan bahwa pemilik tanah dijamin hak-haknya, sebagai-mana ditetapkan dalam Reglemen Tanah Swasta dalam Staatsblad 1811.
"Dua puluh ribu guldenl"  tawar seorang dari Pasar Baru.
"Sekali, dua kali . . ."
"Dua puluh ribu!" seru Oey Thoa yang sejak tadi hanya menonton saja.
"Tiga puluh ribu!" tukas seorang calon pembeli dan Senen.
"Lima puluh ribu," kata Oey tenang.

Penawaran yang tiba-tiba melonjak itu mengejutkan hadirin. Setelah diumumkan tiga kali tak ada yang mengajukan tawaran lagi, maka sebidang tanah itu jatuh ke tangan Oey. Ia membayar tunai dengan lembaran uang yang tersimpan dalam ikat pinggangnya.